| Oleh: Rutsri Marlinda Pian
Kurangnya
akses pendidikan dan rendahnya tingkat penyelesaian sekolah merupakan faktor
signifikan yang mendorong terjadinya kemiskinan kronis
Rendahnya
tingkat pendidikan erat kaitannya dengan pengangguran, yang menjadi salah satu
indikator kemiskinan paling dominan di wilayah 3T. Pendidikan yang rendah
menciptakan siklus yang sulit diputus karena kurangnya keterampilan yang
relevan untuk berpartisipasi dalam pasar kerja yang kompetitif
Akses
ke pendidikan dasar berkualitas dan mendukung kesejahteraan anak adalah solusi
yang diakui secara global untuk memutus siklus kemiskinan. Hal ini karena
pendidikan tidak hanya meningkatkan keterampilan individu, tetapi juga
mengatasi banyak masalah lain yang membuat komunitas rentan.
Pendidikan
sering disebut sebagai "penyamarataan besar" karena dapat membuka
pintu bagi pekerjaan, sumber daya, dan keterampilan yang tidak hanya membantu
seseorang untuk bertahan hidup, tetapi juga berkembang. Menurut UNESCO, jika
semua siswa di negara berpenghasilan rendah memiliki keterampilan membaca dasar
saja, sekitar 171 juta orang dapat keluar dari kemiskinan ekstrem. Jika semua
orang dewasa menyelesaikan pendidikan menengah, kita dapat mengurangi tingkat
kemiskinan global lebih dari setengahnya
Inti
dari pendidikan berkualitas adalah mendukung perkembangan sosial, emosional,
kognitif, dan keterampilan komunikasi anak. Anak-anak yang bersekolah
memperoleh pengetahuan dan keterampilan di tingkat yang lebih tinggi daripada
mereka yang tidak bersekolah. Keterampilan ini kemudian dapat digunakan untuk
memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan membangun kehidupan yang sukses
Pendidikan
mempengaruhi kemiskinan melalui berbagai cara, termasuk meningkatkan
keterampilan ekonomi dan mengurangi ketidaksetaraan. Pertama,
pendidikan terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi. Pendidikan merupakan cara
terbaik untuk keluar dari kemiskinan, salah satunya karena sangat berkaitan
dengan pertumbuhan ekonomi. Sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan bersama
oleh Universitas Stanford dan Universitas Ludwig Maximilian di Munich
menunjukkan bahwa antara tahun 1960 dan 2000, 75% dari pertumbuhan produk
domestik bruto (PDB) global terkait dengan peningkatan keterampilan Matematika dan
Sains
Kedua,
pendidikan universal dapat menjadi alat yang kuat untuk melawan
ketidaksetaraan. Dalam laporan Oxfam tahun 2019, disebutkan dengan tepat:
“Pendidikan berkualitas baik dapat membebaskan individu dan bertindak sebagai
penyamarataan dalam masyarakat”
Untuk
mencapai hal ini, berbagai solusi harus diterapkan secara terpadu dan
berkelanjutan. Pertama, pendidikan gratis
dan berkualitas untuk semua, menjadi fondasi penting untuk menjamin akses
merata bagi seluruh anak. Dengan menghapus biaya sekolah mulai dari pra-sekolah
hingga pendidikan menengah, keluarga miskin dapat mengurangi beban finansial
mereka sehingga dapat memperkecil jurang ketimpangan antara kaya dan miskin. Oleh
karena itu, kebijakan pendidikan gratis perlu diterapkan di seluruh wilayah
NTT.
Kedua,
investasi pada guru dan kualitas pembelajaran adalah kunci dalam
menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas. Guru yang terlatih dan
didukung secara memadai mampu memberikan pendidikan yang lebih baik. Pelatihan
berkelanjutan, dukungan profesional, dan pemberian insentif yang layak kepada
guru, terutama di daerah terpencil NTT, dapat meningkatkan motivasi dan
kemampuan mereka dalam mengajar.
Ketiga,
sistem pendidikan yang inklusif memastikan bahwa setiap anak memiliki
kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, tanpa memandang latar belakang etnis,
ekonomi, atau kemampuan fisik. Di beberapa wilayah, anak perempuan masih
memiliki akses pendidikan yang terbatas dibandingkan dengan anak laki-laki.
Pendidikan yang inklusif memungkinkan semua anak, termasuk mereka yang berasal
dari kelompok minoritas dan anak-anak berkebutuhan khusus, untuk meraih kesempatan
yang sama.
Keempat,
pendanaan yang adil dan transparan diperlukan untuk menyediakan
pendidikan yang merata dan berkualitas tinggi. Ethiopia adalah contoh negara
yang telah menunjukkan komitmen tinggi terhadap pendidikan dengan
mengalokasikan anggaran pendidikan yang signifikan sehingga 25 juta anak kini
memiliki akses ke sekolah
Kelima,
penghapusan komersialisasi dalam pendidikan merupakan langkah penting
untuk mencegah peningkatan kesenjangan dalam akses pendidikan. Privatisasi dan
kerja sama publik-swasta berisiko meningkatkan segregasi pendidikan, di mana
anak-anak dari keluarga miskin cenderung tertinggal dalam kualitas pendidikan
yang mereka terima. Pemerintah NTT perlu lebih fokus pada investasi di sekolah
umum dan menjauhkan dana publik dari pengaruh swasta yang mengutamakan
keuntungan.
Keenam,
memajukan kesetaraan gender melalui pendidikan dapat mengurangi
kesenjangan gender dan memberikan dampak positif pada banyak aspek kehidupan
perempuan. Wanita yang mendapatkan pendidikan cenderung memiliki penghasilan
yang lebih tinggi, memiliki kontrol lebih besar atas kesehatan reproduksi
mereka, dan lebih banyak terlibat dalam pengambilan keputusan publik. Menurut
UNESCO, jika semua anak perempuan di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan
menyelesaikan pendidikan menengah, angka pernikahan anak dapat berkurang hingga
64%
Untuk
mencapai hasil ini, strategi yang komprehensif diperlukan. Bantuan dana dan
pembangunan infrastruktur sangat penting untuk membuka akses yang lebih luas,
baik di bidang pendidikan maupun ekonomi. Infrastruktur yang memadai
memungkinkan akses yang lebih mudah ke sekolah, pasar, dan teknologi, sehingga
mendorong kemajuan daerah. Selain itu, kurikulum pendidikan perlu diperbarui
agar lebih relevan dengan kebutuhan lokal, seperti pengembangan agrikultur dan
kewirausahaan, untuk memberdayakan generasi muda dalam perekonomian lokal dan
global.
Di
sisi lain, manajemen sekolah yang profesional dan strategis juga diperlukan
agar sumber daya dapat digunakan secara efektif. Pendekatan seperti mentoring
dari sekolah yang lebih maju dapat membantu transfer pengetahuan dan praktik
terbaik, serta menyediakan jaringan dukungan yang lebih luas. Program anak asuh
juga dapat menjadi solusi untuk memberikan akses pendidikan berkualitas bagi
anak-anak berbakat dari keluarga kurang mampu. Dengan bantuan sponsor,
anak-anak ini dapat melanjutkan pendidikan di sekolah unggulan dan berpotensi
kembali membangun daerah asal mereka. Terakhir, akuisisi atau merger sekolah
yang kekurangan sumber daya dengan sekolah yang lebih kuat secara finansial dan
manajerial dapat menciptakan lembaga pendidikan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini secara sinergis, semua wilayah di NTT dapat
terputus dari siklus kemiskinan kronis dan memiliki potensi besar untuk keluar
dari status 3T.
Referensi:
Chung, Y., & Maguire-Jack, K. (2020). Understanding Movement into Poverty and Poverty Persistence over Time. Journal of Poverty, 24(3), 241–255. https://doi.org/10.1080/10875549.2019.1692271
Fransman, T., & Yu, D. (2019). Multidimensional poverty in South Africa in 2001–16. Development Southern Africa, 36(1), 50–79. https://doi.org/10.1080/0376835X.2018.1469971
Hanushek, E. A., & Woessmann, L. (2021). Education and Economic Growth. In Oxford Research Encyclopedia of Economics and Finance. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190625979.013.651
Lo Bue, M. C., & Palmisano, F. (2021). The Individual Poverty Incidence of Growth. Oxford Bulletin of Economics and Statistics, 82(6), 1295–1321. https://doi.org/10.1111/obes.12362
Sugiharti, L., Esquivias, M. A., Shaari, M. S., Jayanti, A. D., & Ridzuan, A. R. (2023). Indonesia’s poverty puzzle: Chronic vs. transient poverty dynamics. Cogent Economics and Finance, 11(2). https://doi.org/10.1080/23322039.2023.2267927
UNESCO. (2013). Education transforms lives. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000223115
Walker, J., Pearce, C., Boe, K., & Lawson, M. (2019). The Power of Education to Fight Inequality: How increasing educational equality and quality is crucial to fighting economic and gender inequality. https://doi.org/10.21201/2019.4931